Kepulauan Indonesia terletak di jalur laut utama antara Asia bagian timur dan selatan. Dalam wilayah seperti ini, bisa dipastikan akan terdapat populasi yang terdiri dari atas beragam ras. Campuran rasial di Hindia sangat menarik karena kebetulan tiga ras utama umat manusia berdiam di benua-benua sekitarnya.

Sundaland Glasial Terakhir

Penemuan Eugene Dubois

Penemuan antropologis menambahkan banyak kerumitan pada studi mengenai problem rasial dalam gugusan pulau itu. Tidak diragukan bahwa Jawa adalah tempat tinggal salah satu ras manusia yang paling awal. Pada 1890 Dr. Eugene Dubois menemukan sisa-sisa sebuah kerangka yang tampaknya tidak dapat diklasifikasikan entah sebagai kera atau manusia.

Eugene Dubois dan Manusia Jawa

Ada beberapa teori mengenai perkembangan etnologis Indonesia. Keadaan dan rasialnya sangat kompleks. Beberapa ratus bahasa digunakan di Kepulauan Indonesia, dan sering kali beberapa bahasa di satu pulau kecil. Penduduk satu wilayah kecil selalu terdiri atas tipe rasial yang sangat berbeda. Dan uniknya di semua pulau besar (kecuali Jawa) kita temukan suku-suku primitif hidup berdampingan dengan orang-orang dengan derajat peradaban tinggi. Salah satu aspek paling mencolok dari masalah ini ialah bahwa di setiap pulau besar ada perbedaan besar antara penduduk wilayah pantai dan pedalaman.

Temuan P. dan F. Sarasin Bersaudara

P. dan F. Sarasin bersaudara, penjelajah terkenal pedalaman Sulawesi, adalah ilmuwan-ilmuwan pertama yang merumuskan suatu teori yang masuk akal tentang perbedaan antara suku-suku bangsa pedalaman dengan penduduk pantai ini. Teori itu kemudian dikembangkan lagi oleh antropolog-antropolog lain. Teori Sarasin bersaudara itu adalah bahwa populasi asli Kepulauan Indonesia adalah suatu ras berkulit gelap, dan bertubuh kecil, dan bahwa ras ini awalnya mendiami seluruh Asia bagian tenggara.

Sarasin Bersaudara

Pada waktu itu wilayahnya adalah daratan yang solid. Tentu asaja, es dari periode glasial tidak pernah menutupi pulau-pulau Hindia Timur itu, tapi pada penghujung periode glasial yang terakhir level laut naik begitu tinggi sehingga Laut Cina Selatan dan Laut Jawa terbentuk dan memisahkan wilayah pegunungan vulkanik Indonesia dari daratan utama. Sisa-sisa penduduk asli yang terpisah-pisah dianggap masih tinggal di daerah-daerah pedalaman, sementara daerah-daerah pantai yang baru terbentuk dihuni oleh pendatang-pendatang baru.

Sarasin bersaudara menyebut keturunan asli itu adalah orang Vedda, menurut nama salah satu suku bangsa paling terkenal yang masuk kelompok ini, suku bangsa Vedda di Ceylon (Sri Lanka). Termasuk dalam kelompok ini ialah suku Hieng di Kamboja, Miao-tse dan Yao-jen di Cina, serta Senoi di semenanjung Malaya.

Kumpulan bukti antropologis dan arkeologis tampaknya menunjukkan bahwa populasi tertua Kepulauan Indonesia berhubungan erat dengan nenek moyang orang Melanesia masa kini dan bahwa orang Vedda yang disebut Sarasin tersebut termasuk ras Negrito yang walaupun jarang, tapi masih terdapat di seluruh Afrika, Asia Selatan, dan Oceania. Jadi Vedda adalah “Imigran” pertama yang masuk ke dunia pulau yang sudah berpenghuni dan masih dapat dibedakan dari pendahulu mereka berkat model perkakas batu yang mereka tinggalkan. Kedua ras itu pastilah hidup di tahap “Mesolitik” budaya primitif.

Contributor
Comments to: Ras Tertua Di Dunia Adalah Di Indonesia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: