Semua orang tentu mempunyai impian untuk hidup damai dan jauh dari kata perang, karena perang menyebabkan bukan hanya kehancuran tapi juga membawa krisis terhadap negara yang ikut andil dalam perang tersebut, meliputi kemiskinan, kematian, bahkan kejahatan pasti merebak di seantero negeri seperti perampokan karena kemiskinan yang terjadi karena perang.

Panglima Perang Terbaik Muslim Abad Pertengahan
Panglima Perang Terbaik Muslim Abad Pertengahan

Apakah Perang Itu?

Menurut Wikipedia, Perang adalah sebuah aksi fisik dan non fisik (dalam arti sempit, adalah kondisi permusuhan dengan menggunakan kekerasan) antara dua atau lebih kelompok manusia untuk melakukan dominasi di wilayah yang dipertentangkan. Perang secara purba dimaknai sebagai pertikaian bersenjata. Di era modern, perang lebih mengarah pada superioritas teknologi dan industri. Hal ini tercermin dari doktrin angkatan perangnya seperti “Barang siapa menguasai ketinggian maka menguasai dunia”. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan atas ketinggian harus dicapai oleh teknologi. Namun kata perang tidak lagi berperan sebagai kata kerja, tetapi sudah bergeser pada kata sifat. Yang mempopulerkan hal ini adalah para jurnalis, sehingga lambat laun pergeseran ini mendapatkan posisinya, tetapi secara umum perang berarti “pertentangan”.

Kenapa Perang Bisa Terjadi?

Sifat dasar manusia yang butuh validasi, mendasari rasa ingin berkuasa atas kelompok atau negara tertentu hanya untuk membuktikan bahwa dia lah yang terkuat, ataupun untuk tujuan lain yang lebih spesifik demi kepentingan pribadi atau kepentingan kelompoknya.

Panglima Perang Terbaik Muslim

Di dalam perang ada aspek yang benar-benar dipikirkan dan dirancang dengan matang oleh panglima perang dan anggota perang lainya, aspek tersebut yaitu :

  • Grand strategi
  • Strategi Militer
  • Operasi militer
  • Taktik
  • Logistik militer

Hal itu pastinya menjadi rahasia umum bagi para Panglima-panglima muslim pada abad pertengahan untuk memperoleh kemenangan pada setiap perang yang mereka lalui, berikut adalah Panglima-Panglima perang terbaik muslim era pertengahan menurut lebihbebas.com

Nabi Muhammad SAW

Pada perang Badar, yaitu perang besar pertama Muslim terhadap musuh-musuhnya, dengan pasukan yang sangat sedikit dibanding musuhnya, Nabi Muhammad sangat jeli dalam setiap aspek yang perlu disiapkan sebelum perang, pada saat itu pasukan Muslim sejumlah 313-317 orang.

Nabi Muhammad
Nabi Muhammad

Sedangkan di pihak Quraisy Nabi Muhammad menggali informasi dari 2 orang penyedia air minum pasukan quraisy tentang banyaknya pasukan mereka, pada saat ditanyai tentang jumlah dari pasukan quraisy 2 orang tersebut selalu menjawab “kami tidak tahu, sungguh!”

Namun Nabi Muhammad mengganti pertanyaan “Berapakah jumlah unta dan kambing yang mereka sembelih setiap harinya?” Mereka hanya menjawab bahwa setiap harinya pasukan Quraisy menyembelih unta dan kambing sekitar 9-10 ekor. Dalam perang tersebut Nabi Muhammad menguasai titik-titik mata air agar kaum quraisy mudah dikalahkan, karena kekurangan logistik perang.

dari statistik, perang yang dipimpin oleh Nabi Muhammad hampir semuanya mendapatkan kemenangan.

Khalid ibn Walid

Pada saat pertempuran Yarmuk, Khalid bin Walid berkali-kali melakukan beberapa kejeniusanya dalam berperang, perang ini adalah perang melawan Kerajaan Romawi Timur atau Byzantium, perang ini terjadi di dekat Sungai Yarmuk yang merupakan anak sungai terbesar dari sungai yordan.

Khalid bin Walid
Khalid bin Walid

Dituliskan bahwa Khalid bin Walid memimpin sekitar 36.000 sampai 40.000 pasukan, sedangkan pasukan Romawi membawa pasukan sekitar 400.000 pasukan, meskipun dengan jumlah pasukan yang kalah banyak dibanding pasukan Romawi, pasukan Muslim mampu mengalahkan sekitar 45% dari pasukan Romawi dan pasukan Muslim kehilangan 4.000 orang.

Di pertempuran Yarmuk, Khalid bin Walid menerapkan strategi perang baru yang strategi itu belum pernah sama sekali digunakan oleh orang-orang Arab sebelumnya. Strategi itu adalah dengan cara membentuk kurdus atau batalyon dan pasukan dibuat menjadi tiga puluh lima sampai empat puluh kurdus. Setiap kurdus terdiri dari seribu orang yang dipimpin oleh pemimpin pasukan.

Khalid mengurutkan pasukannya berdasarkan urutan berikut:

  • Beberapa kelompok yang terdiri dari sepuluh sampai dua puluh kurdus, setiap kelompok di bawah satu komandan Amir-ul-Ashar dan satu pemimpin umum Amir-ul-Jaish.
  • Satu kurdus terdiri dari seribu prajurit di bawah satu komandan perang Al-Qaid dan satu pemimpin umum Amir.
  • Setelah itu Khalid bin Walid membagi pasukannya menjadi empat puluh kurdus. Setiap komandan pasukan mempunyai tugas untuk berjalan mengelilingi pasukannya masing-masing bertujuan untuk membangkitkan semangat mereka berjihad.

Para komandan perang pasukan Islam ini melihat bahwa pertempuran kali ini merupakan perang yang menentukan poin-poin besar yang sangat dan telah berhasil sampai pada misi berikutnya.

Salahuddin Ayyubi

Sosok yang paling dikenal oleh dunia Islam pun dengan Kristen, karena kala perang Salib Saladin adalah sosok yang pengampun dan ksatria kepada pasukan Kristen, terbukti meskipun pada tahun 1099 ketika pasukan Salib menguasai Yerusalem sekitar 70 ribu orang Islam dibantai dan sisanya orang Yahudi dibakar di Sinagog, ia malah melepaskan sebagian besar orang Nasrani yang ditawan.

Salahuddin al Ayyubi
Salahuddin al Ayyubi

Pada saat perang Salib pertama kaum Muslim khususnya penguasa di Suriah malah melakukan gencatan senjata dengan ekspansi dengan Kaum Frank hal ini membuat Tentara Salib menjadi semakin kuat dan sebaliknya Umat Islam pada saat itu menjadi lemah.

Kemajuan dari Kaum Muslim terlihat sejak dipimpin oleh Nuruddin yang berhasil menyatukan Mesir dan Suriah dan berhasil mengalahkan Kaum Frank yang tersisa, pada saat Nuruddin wafat pada tahun 1174 posisinya digantikan oleh Salahuddin, pada tahun 1187 Salahudin memerangi tentara Salib yang dipimpin oleh Guy de Lusignan dan pada akhirnya pada tanggal 2 Oktober 1187 Kaum Muslim berhasil merebut kembali Yerusalem.

Ada pepatah mengatakan sejarah ditulis oleh pemenang, sepertinya hal ini berbeda dengan kejadian yang ada pada saat Perang Salib, meskipun Tentara Salib mendapat kekalahan, namun sejarah dari mereka tetap menuliskan bahwa sosok Salahuddin ini adalah sosok yang patut dicontoh karena kemurahan hatinya.

Baibars

Setelah tergulingnya Dinasti Ayyubiyah lahir dinasti baru yang lebih militan dari Dinasti Ayyubiyah, yaitu Dinasti Mamluk dari Mesir pada tahun 1250, mereka ingin mengusir Tentara Salib selama-lamanya dari Timur Dekat.

Baibars
Baibars

Dibawah pimpinan Al-Malik az-Zahir Ruknuddin Baibars al-Bunduqdari, atau disingkat Baibars, Tentara Salib sampai harus bekerja sama dengan Mongol dibawah pimpinan Kitbuqa pada peperangan Ain Jalut, meskipun sudah bergabung dengan Mongol, Tentara Salib pimpinan Raja Edward 1 tetap gagal untuk mengalahkan Islam, dalam hal tersebut tentara Muslim adalah Tentara Muslim berhasil menaklukan 2 kekuatan besar dan paling ditakuti, Mongol yang tidak pernah dikalahkan bahkan tunduk oleh Dinasti Mamluk.

Salah satu kunci kemenangan Dinasti Mamluk terhadap Mongol adalah sistem pos ala Dinasti Mamluk yang dibangun sepanjang rute Irak hingga Mesir, Di atas menara pengawas itu, selama 24 jam penuh para penjaga telah menyiapkan tanda-tanda bahaya. Jika bahaya mengancam di siang hari, petugas akan membakar kayu basah yang dapat mengepulkan asap hitam. Sedangkan pada malam hari, petugas akan membakar kayu kering. Upaya itu ternyata tak sepenuhnya berhasil. Tentara Mongol mampu menembus Baghdad dan memporak-porandakan metropolis intelektual itu. Meski begitu, peringatan awal yang ditempatkan di sepanjang rute pos itu juga berhasil mencegah masuknya tentara Mongol ke Kairo, Mesir.

Hanya dalam waktu delapan jam, berita pasukan Mongol akan menyerbu Kairo sudah diperoleh pasukan tentara Muslim. Itu berarti, sama dengan waktu yang diperlukan untuk menerima telegram dari Baghdad ke Kairo di era modern. Berkat informasi berantai dari menara pengawas itu, pasukan Mamluk mampu memukul mundur tentara Mongol yang akan menginvasi Kairo. Menurut Paul Lunde, layanan pos melalui jalur darat pada era kekuasaan Dinasti Mamluk juga sempat terhenti ketika pasukan Tentara Salib memblokir rute pos. Meski begitu, penguasa Dinasti Mamluk tak kehabisan akal.

Sejak saat itu, kata dia, Dinasti Mamluk mulai menggunakan merpati pos. Dengan menggunakan burung merpati sebagai pengantar pesan, pasukan Tentara Salib tak dapat mencegah masuknya pesan dari Kairo ke Irak. Merpati pos mampu mengantarkan surat dari Kairo ke Baghdad dalam waktu dua hari, tutur Lunde. Sejak itu, peradaban Barat juga mulai meniru layanan pos dengan merpati seperti yang digunakan penguasa Dinasti Mamluk.

Mehmed II

Mehmed II atau juga dikenal secara luas sebagai Muhammad al-Fatih yang berhasil mengukir berbagai capaian di masa pemerintahannya, namun capaiannya yang paling besar adalah Penaklukan Konstantinopel yang mengakhiri riwayat Kekaisaran Romawi Timur, menjadikannya mendapat julukan ‘Sang Penakluk’ (الفاتح, el-Fatih).

Mehmed al fatih
Mehmed al fatih

Pada umur 21 tahun, ia berhasil menaklukan Konstantinopel, kota yang didirikan Kaisar Romawi Konstantinus Agung pada 330 M, merupakan salah satu kota termasyhur di dunia kala itu. Di dunia Kristen, kota ini menjadi yang terdepan dalam segi kebudayaan dan kesejahteraan, utamanya pada masa Wangsa Komnenos.

Telah banyak yang mencoba untuk menembus bentengnya namun tak ada satupun yang berhasil, namun dengan persiapan yang sangat matang semenjak naik tahta, Sultan Mehmed II telah memusatkan perhatiannya kepada Konstantinopel, mulai dari memperkuat angkatan lautnya, dengan dibangunya Rumeli Hisarı, untuk memungut pajak dari setiap kapal yang lewat dan membuat Selat Bosporus menjadi kuasa penuh dari pihak Kesultanan, awalnya pihak Venesia menolak, langsung pihak Kesultanan menenggelamkan kapal hanya dalam sekali tembakan.

Pada tahun 1453, Mehmed memulai pengepungan Konstantinopel dengan pasukan berjumlah antara 80.000 sampai 200.000 orang, kereta api artileri, dan 320 kapal. Kota ini dikelilingi oleh laut dan darat, armada ditempatkan di pintu Bosporus dari pantai ke pantai dalam bentuk bulan sabit untuk menghadang bantuan untuk Konstantinopel dari laut.

Pada awal April, upaya penaklukan Konstantinopel dimulai. Pada awalnya, tembok kota dapat menahan pasukan Utsmani, meskipun Sultan Mehmed telah menggunakan meriam yang dibuat oleh Orban, insinyur dari Transylvania. Pelabuhan Tanduk Emas dilindungi menggunakan rantai penghadang dan dijaga dua puluh delapan kapal.

Pada 22 April, Mehmed menarik kapal perangnya ke darat, menaiki bukit di sekitar koloni Genova di Galata, dan ke pantai utara Tanduk Emas. Delapan puluh kapal diangkat dari Bosporus setelah membuka rute, kurang lebih satu mil, dengan kayu. Dengan keadaan demikian, pihak Romawi menempatkan pasukan mereka di atas dinding yang lebih panjang. Sekitar sebulan kemudian, Konstantinopel akhirnya berhasil ditaklukan pihak Utsmani setelah 57 hari pengepungan. Setelah penaklukan ini, Mehmed memindahkan ibu kota Utsmani dari Edirne ke Konstantinopel.

Dua keponakan dan pewaris Kaisar Konstantinus XI Palaiologos lantas menjadi pelayan dekat Mehmed dan kemudian masuk Islam dan diberi nama baru, Hass Murad dan Mesih. Hass Murad diangkat sebagai Gubernur Balkan, sementara Mesih menjadi Gubernur Gallipoli dan kemudian wazir agung pada masa kekuasaan putra Mehmed, Bayezid II.

Kaisar Konstantinus XI sendiri meninggal pada hari penaklukan Konstantinopel, tetapi tidak ada saksi mata yang selamat yang melihat kematiannya. Kisah masyhur yang beredar menyatakan bahwa Konstantinus menanggalkan jubah kebesarannya dan berperang bersama prajurit yang tersisa sampai meninggal dalam pertempuran.

Itulah beberapa panglima perang Muslim terbaik pada abad pertengahan, selain sangat pandai ilmu tentang Agama mereka juga sangat tahu banyak tentang aspek-aspek dalam perang yang telah kita bahas di awal artikel.

Comments to: Panglima Perang Terbaik Muslim Abad Pertengahan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: