Tahukah kalian, pandemi terbesar yang menyerang seluruh dunia paling banyak penyebabnya adalah virus influenza, virus flu dapat berubah dari waktu ke waktu dan umumnya ahli medis dapat memprediksi perubahan yang terjadi. Namun, terkadang mungkin saja muncul virus baru yang tidak bermutasi seperti yang telah diperkirakan. Hal tersebutlah yang menyebabkan timbulnya pandemi dari virus baru.

Tabib abad pertengahan

Termasuk pandemi Covid-19 yang melanda di seluruh dunia, Coronavirus ditemukan pada 1960-an. Virus yang paling awal ditemukan adalah virus bronkitis infeksius pada ayam dan dua virus dari rongga hidung manusia dengan flu biasa yang kemudian diberi nama human coronavirus 229E dan human coronavirus OC43. Sejak saat itu, anggota koronavirus yang lain mulai diidentifikasi, termasuk SARS-CoV pada 2003, HCoV NL63 pada 2004, HKU1 pada 2005, MERS-CoV (sebelumnya dikenal sebagai 2012-nCoV) pada 2012, dan SARS-CoV-2 (sebelumnya dikenal sebagai 2019-nCoV) pada 2019; sebagian besar dari virus-virus ini terkait dengan infeksi saluran pernapasan yang serius.

Tapi pada sisi lain, sebagian masyarakat tak percaya dengan pandemi. Ini mempersulit ikhtiar pencegahan wabah.

Dampak Wabah dan Ta’un Menurut al-Suyuthi

Karya al-Suyuthi membahas kemunculan wabah dan ta’un, cara penularan wabah, jenis-jenis wabah (termasuk Wabah Hitam di Eropa pada abad ke-15 M), perbedaan ta’un dan wabah, karantina, dampak sosial-ekonomi wabah, dan kisah-kisah pilu dan kelam sekitar wabah.

Jalal al-Din al-Suyuthi

Al-Suyuthi menyebut wabah sebagai penyakit yang menular kemana-mana. Sekarang istilah medisnya pandemi dan epidemi. Sementara ta’un adalah penyakit mematikan yang aneh luar biasa. “Setiap ta’un adalah wabah, tetapi tidak setiap wabah adalah ta’un,” sebut al-Suyuthi.

Tercatat setidaknya ada 56 karya ulama yang mengangkat bahasan wabah dan penyakit mematikan dari abad ke-3 sampai ke-15 Hijriah. Manuskrip itu terawat dengan baik di pusat penelitian seperti al-Furqan Foundation, London, Inggris; İslam Araştırmaları Merkezi (İSAM), Istanbul, Turki; dan Institut für Geschichte der Arabisch-Islamischen Wissenschaften (IGAW), Frankfurt, Jerman.

Soal wabah pun termaktub di dalam karya para ulama masa lampau di tanah Melayu. Sebut saja Bustan al-Salatin karya Nur al-Din al-Raniri, ulama Melayu sohor dari Aceh yang hidup pada abad ke-17 M. Di dalam “Bab Ketujuh Fasal Ketiga: Pada Menyatakan Ilmu Tashrih dan Ilmu Tibb”, al-Raniri menyebut salah satu khasiat cuka (khall) sebagai obat terhadap sejumlah wabah (wabak) penyakit.

Ibnu Hajar Al Asqalani, norma-norma terkait wabah dan Ibnu Al Wardi syair mengenai wabah.

Pada abad ke-14 dalam sebuah manuskrip yang ditulis Ibnu Hajar Al Asqalani kita bisa belajar banyak mengenai norma-norma terkait wabah. Juga syair indah yang menggambarkan suasana selama wabah, baik kesedihan, ketegaran, yang ditulis langsung oleh seorang penyair bernama Ibnu Al Wardi yang anaknya meninggal karena wabah.

Ibnu Hajar Al Asqalani

Beberapa yang bisa dibaca dalam manuskrip tersebut juga mengenai testimoni penduduk yang mengalami wabah dan para keluarga dekat korban wabah.

Dikatakannya, ritual-ritual keagamaan dan perilaku tradisional juga dilakukan dalam menghadapi wabah.

Ritual keagamaan muslim Kairo dan Damaskus dalam masa pandemi abad ke-14 bisa dilihat dalam beberapa kegiatan. Seperti prosesi pemakaman massal, doa bersama dengan bacaan-bacaan tertentu, penutupan rumah ibadah, membaca kitab Bukhari, serta puasa berjamaah.

Ibnu Al Wardi

Pada pertengahan abad ke-14 Ibadah Haji juga sempat dilakukan dalam masa wabah yang menyebabkan kurang lebih 15 ribu jamaah haji meninggal.

Terapi tradisional menurut Ibnu Khotimah

Ilmuwan dari Almeria itu menulis Tahsil al-Gharad al-Qasid fii Tafil al-Marad al- Wafid sekitar tahun 1349. Ibnu Khatimah menduga buruknya kualitas udara sebagai pemicu persebaran wabah.

Terkait the Black Death, ia menduga beberapa faktor penyebabnya. Misalnya, musim yang datang tak menentu sehingga mengubah drastis suhu udara, curah hujan, atau kecepatan angin. Selain itu, ia mengatakan, hawa tak sedap yang muncul dari bangkai-bangkai atau jasad yang dibiarkan terbuka juga turut memperparah persebaran wabah. Belakangan, pendapatnya tentang musim yang fluktuatif itu dibantah Ibnu al-Khatib.

Ilmuwan lainnya yang juga menelaah ihwal wabah berasal dari Granada, Spanyol. Dialah Muhammad bin Ali asy-Syaquri. Ia menulis Tahqiq an-Naba ‘an Amr al-Waba’. Isinya terutama berkaitan dengan metode penanganan korban wabah.

Dengan mengetahui beberapa penyakit sebelumnya, diharapkan banyak orang sadar tentang arti kesehatan dan kebersihan. Karena umumnya penyakit tersebut disebabkan oleh flu, sehingga lebih mudah menularkan orang lain.

Tapi pada akhirnya, pengkajian ilmiah manuskrip-manuskrip itu telah menyumbang referensi bagi umat manusia dalam menghadapi persoalan pandemi hari ini.

Sumber :

Historia.id | Halodoc.id | Tribunnews | Republika | Wikipedia

Contributor
Comments to: Pada Zaman Dahulu, Islam Telah Membuat Kajian Tentang Pandemi

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: