DR. (H.C.) K. H. Abdurrahman Wahid

Pada pertemuan dengan rektor-rektor universitas pada 27 Januari 2001, Gus Dur menyatakan kemungkinan Indonesia masuk kedalam anarkisme. Ia lalu mengusulkan pembubaran DPR jika hal tersebut terjadi. Pertemuan tersebut menambah gerakan anti-Wahid. Pada 1 Februari 2001, DPR bertemu untuk mengeluarkan nota terhadap Gus Dur. Nota tersebut berisi diadakannya Sidang Khusus MPR di mana pemakzulan Presiden dapat dilakukan. Anggota PKB hanya bisa walk out dalam menanggapi hal ini. Nota ini juga menimbulkan protes di antara NU.

Di Jawa Timur, anggota NU melakukan protes di sekitar kantor regional Golkar. Di Jakarta, oposisi Gus Dur turun menuduhnya mendorong protes tersebut. Gus Dur membantah dan pergi untuk berbicara dengan demonstran di Pasuruan. Namun, demonstran NU terus menunjukkan dukungan mereka kepada Gus Dur dan pada bulan April mengumumkan bahwa mereka siap untuk mempertahankan Gus Dur sebagai presiden hingga mati.

Pada bulan Maret, Gus Dur mencoba membalas oposisi dengan melawan disiden pada kabinetnya. Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra dicopot dari kabinet karena ia mengumumkan permintaan agar Gus Dur mundur. Menteri Kehutanan Nurmahmudi Ismail juga dicopot dengan alasan berbeda visi dengan Presiden, berlawanan dalam pengambilan kebijakan, dan diangap tidak dapat mengendalikan Partai Keadilan, yang pada saat itu massanya ikut dalam aksi menuntut Gus Dur mundur. Dalam menanggapi hal ini, Megawati mulai menjaga jarak dan tidak hadir dalam inaugurasi penggantian menteri. Pada 30 April, DPR mengeluarkan nota kedua dan meminta diadakannya Sidang Istimewa MPR pada 1 Agustus.

Gus Dur Keluar Dari Istana Negara

Gus Dur mulai putus asa dan meminta Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam) Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyatakan keadaan darurat. Yudhoyono menolak dan Gus Dur memberhentikannya dari jabatannya beserta empat menteri lainnya dalam reshuffle kabinet pada tanggal 1 Juli 2001. Akhirnya pada 20 Juli, Amien Rais menyatakan bahwa Sidang Istimewa MPR akan dimajukan pada 23 Juli. TNI menurunkan 40.000 tentara di Jakarta dan juga menurunkan tank yang menunjuk ke arah Istana Negara sebagai bentuk penunjukan kekuatan.

Gus Dur kemudian mengumumkan pemberlakuan maklumat yang berisi:

  1. Pembubaran MPR/DPR,
  2. Mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun, dan
  3. membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap Sidang Istimewa MPR.

Namun maklumat tersebut tidak memperoleh dukungan dan pada 23 Juli, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Soekarnoputri.

Abdurrahman Wahid terus bersikeras bahwa ia adalah presiden dan tetap tinggal di Istana Negara selama beberapa hari, tetapi akhirnya pada tanggal 25 Juli ia pergi ke Amerika Serikat karena masalah kesehatan.

Pesan dari Gus Dur Kepada Pasukan Berani Mati

Spiritualitas yang dimiliki membuat Gus Dur mampu bersikap egaliter dengan sebagian besar masyarakat Indonesia. Ia tidak pernah merendah, tetapi tidak pula punya rasa sombong. Jika ia tidak memiliki laku spiritual yang kuat, perpecahan pasca-pelengserannya sebagai presiden oleh MPR, mungkin saja terjadi. Sebenarnya, Gus Dur bisa saja membiarkan gerakan massa para pembelanya untuk merebut kembali kekuasaan di pemerintah.

Namun, Gus Dur tidak melakukan itu demi kepentingan umat dan negara yang jauh lebih besar dari kepentingan diri pribadi atau kelompok. Atas dasar itu, ia rela pergi ke Pasuruan untuk mendinginkan massa ‘pasukan berani mati’ pembela Gus Dur yang mulai beringas.

Gus Dur Meredam Amarah Pendukungnya

Sebagaimana diketahui, pasca Gus Dur dilengserkan oleh MPR, segenap simpatisan yang sebagian besar terdiri dari Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dan warga Nahdliyin akan mengepung Jakarta. Ia tentu saja paham, jika gelombang massa ini dibiarkan maka dapat menimbulkan kekacauan di negeri ini.

Greg Barton menulis dalam buku Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (2008: 463), pada Februari 2001, Gus Dur berpidato di hadapan massa pembelanya dan meminta agar meninggalkan jalan, kembali ke rumah, serta mendoakan yang terbaik.

Menurut Greg, yang dilakukan Gus Dur itu mirip seperti seorang politisi kaum buruh yang mencoba membujuk bekas-bekas sejawatnya yang sedang berdemonstrasi. Gus Dur beradu pendapat dengan ribuan demonstran seraya menyatakan argumentasinya.

Contributor
Comments to: #HariIniDiSejarah 23 Juli 2001 Presiden Gus Dur Dilengserkan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: