Kalau berbicara tentang kapal pada masa lampau mungkin bayangan kita akan langsung menuju ke negara-negara barat seperti kapal milik Portugis Flor De La Mar yang karam dan diyakini membawa harta rampasan perang berupa emas di selat Malaka yang pada tahun 1511 dan besarnya konon seukuran Titanic.

Djong Kapal

Atau kapal Santa Maria yang mengangkut Cristopher Columbus yang menemukan Dunia Baru, dan mendarat tanggal 12 Oktober 1492 di tempat yang saat ini disebut Bahama.

Tapi ternyata kita harus patut berbangga karena jauh sebelum era Columbus melakukan pelayaran dunia untuk mengeksplorasi bagian-bagian terjauh bumi, penjelajah laut Nusantara telah melakukan pelayaran hingga benua-benua lainnya. Jika melihat catatan perjalanan keagamaan yang ditulis oleh I-Tsing (671-695 M), ia melakukan perjalanan ke India Selatan menggunakan kapal dari Kerajaan Sriwijaya yang pada waktu itu dikenal sebagai penguasa Laut Selatan.

Puncak kejayaan perkapalan di Jawa adalah ketika orang Jawa berhasil membuat kapal Jung Jawa pada abad ke 8. Kapal ini menjadi perhatian kawasan Asia Tenggara, karena teknologi yang digunakan dalam pembuatan kapal ini cukup unik. Jung Jawa dibangun tanpa menggunakan paku, seperti halnya pembuatan Kapal Borobudur. Kapal ini terdiri dari empat tiang layar dan dinding, yang merupakan gabungan dari empat lapis kayu sehingga tahan akan tembakan meriam dari kapal-kapal Portugis. Berat dari Jung Jawa juga bervariasi, dari kisaran 600 ton hingga 1000 ton seperti yang digunakan oleh Kerajaan Demak dalam peperangan di Malaka tahun 1513.

Ukuran Jung Jawa berdasarkan pada catatan Tome Pires dan Gaspar Correia juga sangat besar. Bahkan Jung Jawa tidak dapat menepi ke daratan karena ukurannya yang begitu besar. Sehingga diperlukan kapal kecil untuk melakukan bongkat muat. Selain itu Jung Jawa menurut Gaspar Correia melebihi besar dari kapal terbesar Portugis pada waktu itu, Kapal Flor de La Mar.

Flor de La Mar

Kapal Flor de La Mar, dikenal memiliki kapasitas 500 orang pasukan dan 50 buah meriam. Data ini jika dibandingkan dengan kapasitas Jong Jawa, akan cukup timpang. Menurut buku “Majapahit Peradaban Maritim”, Jung Jawa memiliki ukuran 4 hingga 5 kali lipat Kapal Flor de La Mar. Jung Jawa memiliki panjang 300-400 meter. Sehingga jika dibandingkan dengan kapal milik Cheng Ho yang hanya memiliki panjang 138 meter, Jung Jawa jauh lebih besar dan setara dengan kapal induk di masa sekarang.

Hikayat Raja-raja Pasai menyebutkan, Kerajaan Majapahit menggunakan “jung” secara besar-besaran sebagai kekuatan lautnya. Mereka dikelompokkan menjadi 5 armada. Jumlah terbesar “jung” Majapahit mencapai 400 kapal, disertai jenis Malangbang dan Kelulus yang tak terhitung banyaknya.

Gaspar Correia, penulis sejarah abad 16 dari Portugis mencatat tentang pertemuan Alfonso Albuquerque dengan kapal raksasa Majapahit yang terjadi di Selat Malaka. Pramoedya menyebut, nama kapten terkenal Portugis itu berdasarkan penamaan orang Jawa pesisir yakni “Kongso Dalbi”. Catatan Gaspar itu menyebutkan bahwa kapal raksasa itu tidak mempan ditembak meriam yang terbesar. Hanya dua lapis papan yang bisa ditembus dari empat lapis papan kapal itu. Saat kapten mencoba untuk menaikinya bagian belakang kapal Flor de la Mar tidak bisa mencapai jembatannya.

Alfonso Albuquerque sendiri mencatat kalau jung itu memiliki empat tiang layar. Bobot muatannya sekitar 600 ton. Sedangkan yang terbesar tercatat dimiliki Kerajaan Demak dengan bobot mencapai 1.000 ton. Fernao Pires de Andrade mencatat dalam rangkuman Tome Pires kalau kapal itu butuh tiga tahun untuk membangunnya. Konon Albuquerque mempekerjakan 60 tukang kayu dan perancang kapal dari Jawa untuk bekerja bagi Portugis di Malaka. Satu buah jung tercatat berhasil dibawa ke Portugal dan digunakan menjadi kapal penjaga pantai di Savacem.

Pedagang Italia, Giovanni da Empoli, dalam surat-suratnya (1970) menulis bahwa di tanah Jawa, jung tidak berbeda dibanding benteng, karena memiliki tiga dan empat lapis papan, satu di atas yang lain, yang tidak dapat dirusak dengan artileri. Mereka berlayar bersama dengan wanita, anak-anak, dan keluarga mereka, dan semua orang menjaga kamarnya sendiri.

Fungsi Kapal

Kehadiran Jung Jawa pada dasarnya berfungsi sebagai kapal dagang dan juga kapal angkut militer. Berdasarkan pada catatan Duarte Barosa, Jung Jawa digunakan untuk melakukan perdagangan dari Asia Tenggara hingga Timur Tengah. Sedangkan barang dagangan yang dibawa adalah beras, daging sapi, kambing, babi, bawang, senjata tajam, emas, sutra, kamper, hingga kayu gaharu.

Hilangnya Kapal

Anthony Reid berpendapat bahwa kegagalan Pati Unus di Malaka membawa pengaruh yang besar bagi hilangnya kapal-kapal besar dari galangan-galangan kapal di pesisir utara Jawa. Bergesernya kekuasaan Mataram ke pedalaman adalah salah satu yang membuat galangan-galangan kapal yang tersebar di pesisir ditinggalkan. Salah satu pukulan terbesar adalah saat penguasa Mataram menghancurkan sendiri kota-kota pesisir yang menyimpan peninggalan-peninggalan galangan.

Amangkurat 1

Perintah Amangkurat I pada 1655, dicatat Rendra F Kurniawan (2009) sebagai kebijakan represif Mataram yang paling memukul kota-kota pesisir. Perintah dia untuk menutup pelabuhan dan menghancurkan kapal-kapal agar tidak memicu pemberontakan membuat punahnya lapisan ahli-ahli pembuat kapal yang sejak masa Demak sendiri sudah tinggal sisa-sisa.

Kondisi itu semakin diperburuk ketika VOC mulai menguasai pelabuhan-pelabuhan pesisir di pertengahan abad 18. Pada saat itu VOC melarang galangan kapal membuat kapal dengan tonase melebihi 50 ton dan menempatkan pengawas di masing-masing kota pelabuhan.

Contributor
Comments to: Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: